Persis seperti kalimat kutipan yang saya jadikan judul tulisan kali ini, “A different language is a different vision of life.” (Federico Fellini), belajar Mandarin bagi saya bukan hanya merupakan sebuah proses belajar bahasa asing, namun juga merupakan rangkaian proses pembelajaran yang melibatkan peningkatan pemahaman terhadap sudut pandang berbeda yang digunakan oleh penutur asli Mandarin dalam memandang dunia dan isinya. Dalam dunia akademis, kutipan Federico Fellini tersebut bisa dibilang telah dengan tepat menggambarkan fenomena linguistik kognitif, dimana sudut pandang atau pola pikir seseorang, secara sadar maupun tidak, sebenarnya sangat dipengaruhi oleh karakteristik dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa asli (bahasa ibu)-nya.

Bahasa Mandarin (中文 zhōngwén) merupakan bahasa yang kental akan nilai-nilai budaya, yang dapat ditemukan tercermin dalam berbagai aspek, seperti karakter, kosakata, peribahasa, dan lain-lain.

KARAKTER

Berbeda dengan bahasa Indonesia yang menggunakan alfabet sebagai perantara bahasa tulisan, 中文 zhōngwén memiliki karakter tersendiri yang digunakan dalam komunikasi tertulis. Apabila alfabet merupakan simbol bunyi, maka karakter Mandarin, atau lebih sering disebut dengan huruf Mandarin (汉字 hànzì), merupakan simbol arti. Perbedaan di antara keduanya adalah simbol bunyi memungkinkan pembaca untuk melafalkan (mengeja) kata, sedangkan simbol arti mengharuskan pembaca untuk menghafal lafal sebuah huruf/kata. Berbeda dengan simbol bunyi yang bisa saja dilafalkan tanpa mengetahui artinya, pembaca pada umumnya telah mengetahui arti sebuah 汉字 hànzì sebelum dapat melafalkannya.

Lantas, seperti apa dan bagaimana nilai-nilai budaya (文化wénhuà) dapat terkandung dalam sebuah 汉字 hànzì? Saya ambil contoh sederhana dari satu 汉字 hànzì yang menjadi salah satu intisari ajaran Konfusius (孔子 Kǒngzǐ)[1] (551 SM – 479 SM), yaitu karakter 孝 xiào yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “bakti”.

Les Mandarin - Karakter "孝 (xiào) Bakti"
Karakter “孝 (xiào) Bakti”

Dengan memperhatikan skema di atas, tanpa terlebih dahulu mengetahui arti dari karakter 孝 xiào, kita pun mungkin sudah dapat menerka bahwa karakter tersebut terkait dengan konsep dimana seorang anak (子 zi) harus “memikul beban” yang disebabkan oleh seseorang yang lebih tua darinya. Meskipun lebih sering digunakan dalam konteks hubungan antara anak dan orangtua, namun sejatinya makna 孝 xiào dalam 中文 zhōngwén memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk hubungan antara murid (学生xuéshēng) dan guru, hingga hubungan antara bawahan dan atasan (konsep aslinya menggunakan istilah “penguasa/kaisar & menteri” 君臣jūnchén). Hal tersebut juga tercermin dalam penggunaan karakter “tua” (老 lǎo), bukan karakter “ayah” (父 fù) atau ”ibu” (母 mǔ) misalnya, karena 老 lǎo juga mengandung makna seseorang/posisi yang lebih dihormati.

KOSAKATA

Dalam 中文 zhōngwén, kata yang secara implisit bermakna seseorang/posisi yang lebih dihormati seringkali mengandung karakter 老 lǎo, seperti halnya “suami” (老公 lǎogōng), “guru” (老师 lǎoshī), “atasan” (老板 lǎobǎn), dan lain-lain.

PERIBAHASA

Salah satu peribahasa yang erat kaitannya dengan konsep 孝 xiào adalah 养儿防老 yǎng ér fáng lǎo, yang mencerminkan pola pikir tradisional dimana salah satu tujuan orangtua membesarkan & mendidik (养育 yǎngyù) putra/putri (儿子 érzi /女儿 nǚ’ér) adalah demi mempersiapkan (防备 fángbèi) supaya ada anak yang merawat kelak di masa tua.

Les Mandarin - Peribahasa "养儿防老 (yǎng'érfánglǎo)"
Peribahasa “养儿防老 (yǎng’érfánglǎo)”

[1] Konfusius adalah seorang guru dan filsuf sosial Tiongkok dengan filsafah yang mengedepankan moralitas pribadi dan pemerintahan.

Les Mandarin - Kosakata Baru & Pelengkap
Kosakata Baru & Pelengkap

Related posts

Leave a Comment